
Tepat setelah salah seorang gadis memberikan satu dua tips, tepuk tangan pengunjung terdengar menggelegar penuhi gedung besar yang terletak di SMP Negeri 4 Denpasar.
Lagi dan lagi riuh tepuk tangan terdengar penuhi gedung besar dengan nuansa hijau ini. Baju almamater dari berbagai sekolah mulai dari sekolah menengah pertama hingga menengah atas tampak penuhi areal panggung SMP Negeri 4 Denpasar guna meriahkan acara tahunan Kota Denpasar yang satu ini. Langit tunjukkan warna biru cerahnya seolah turut mendukung jalannya acara Denpasar Book Fair 2019. Angin yang berhembus pelan, membuat daun-daun saling bergesekkan timbulkan deru yang berirama. Sinar mentari menerobos malu-malu lewati ventilasi serta kaca-kaca yang menjadi penghias di aula SMP Negeri 4 Denpasar. Meski jarum jam baru menunjukkan pukul empat sore dan sinar mentari masih ingin temani pengunjung Denpasar Book Fair 2019, lampu-lampu yang menyorot juga tak ingin kalah menemani kegiatan pertemuan pers pelajar yang berlangsung pada Rabu (14/08).
Raut wajah pengunjung yang tengah duduk di atas kursi putih itu terlihat begitu serius. Sorot matanya memandang ke arah panggung berlatar biru muda. Pertemuan pers pelajar yang berlangsung di hari terakhir Denpasar Book Fair 2019 ini dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama, terlihat tiga orang gadis yang menjadi narasumber berbicara dengan lugasnya di depan banyak orang. Ya salah satunya ialah Putu Puan Maharani, Putri Liana. Meski seluruh perhatian pengunjung mengarah kepada mereka, tak membuat rasa percaya diri mereka turun. Anjany Putri yang bertugas sebagai moderator, membawa acara ke suasana yang santai. Pertemuan pers kali ini dihadiri oleh sejumlah jurnalis muda yang tentunya sangat haus akan ilmu mengenai dunia jurnalistik. Ni Nyoman Galuh Sri Wedari, Kadek Dwika Wahyudinata, dan Putu Kesya Mahesa menjadi pembicara pada sesi kedua pertemuan pers saat ini. Berbagi pengalaman masing – masing hingga bertukar pikiran menjadi pembicaraan dari ketiga narasumber. Tak luput pada sesi pertanyaan beberapa audiens menggali lebih dalam lagi topik pembicaraan. “Kalau mau menulis itu tergantung sama kemauan dari diri sendiri. Kalau emang diri sendiri emang gak niat mau dikasi tau kayak gimana juga gak bakalan bisa,” ujar Putri Liana sebagai pembicara pada sesi pertama pertemuan pers.
Adanya Pertemuan Pers Pelajar inipun tentunya membawa harapan tersendiri bagi moderator sekaligus panitia yang menangani pertemuan tersebut. “Ya, bisa dibilang ini adalah pertemuan pers pelajar pertama yang ada di Bali, dan aku harapin walaupun kita beda sekolah semoga keluar dari sini dapat menjalin ruang komunikasi satu sama lain,” harap Anjany diakhir wawancara. (dyt/ade)