
“Ya, ini dia! Menu ini dibuka dengan nasi bungkus plus ikan teri khas pesisir Buleleng,” seru Cok Istri Putri Krisna Widnyani (16), Kamis (12/01).
Celetuk Cok Putri, jelas membuat riuh tawa dari tim lainnya kian memecah. Menikmati sebungkus nasi bungkus, dengan beralas rumput hijau dan meneduh di bawah pepohonan memang sedap. Apalagi setelah menempuh perjalanan dua jam lebih dari jantung Ibu Kota Provinsi Bali (Denpasar – red) menuju titik start Jelajah Sepeda Pesisir Bali 2017: Eks Pelabuhan Buleleng.
Kala itu, suasana Pelabuhan ‘Kuno’ tersebut tak se-terik panasnya mentari. Satu-dua wantilan hanya terisi oleh sekelompok bapak-bapak yang tengah bercengkrama ria. Ditambah satu pedagang yang setia memenuhi permintaan pembelinya. Selebihnya, hanya duduk santai di pinggir dermaga. Di sudut gerbang megah Eks Pelabuhan Buleleng, di sanalah Siti Jaenah (45), membantu sang suami mengais secercah rupiah dengan memungut jasa parkir kepada pengunjung.
“Dahulu memang ini adalah pelabuhan. Tapi sekarang dipakai objek wisata. Sudah tidak ada kapal yang bersandar disini. Paling mampirnya di Celukan Bawang atau Sangsit”. Wanita paruh baya asal Purwakarta itu tidak persis tahu, bagaimana perubahan signifikan itu terjadi. “Semenjak alih fungsi Pelabuhan dan juga pembangunan restoran apung di sini, banyak pengunjung yang datang. Bahkan biasanya datang dari Denpasar dan Lovina,” sambungnya. Tak banyak yang dapat dilakukan, wisatawan cenderung hanya berfoto ria di Konco (Klenteng – red), juga dengan tugu perjuangan yang konon peninggalan zaman Belanda, di sana.
Sementara warga lokal punya cara tersendiri. Biasanya pukul 4 sore, pelabuhan sudah mulai ramai. Ada yang hanya duduk-duduk dan berkeliling saja, sekadar melempar juan pancing, ataupun memadu kasih. Semuanya dapat dilakukan. Pelabuhan sering digunakan sebagai tempat melasti (upacara penyucian di laut – red) juga nganyutin layon (upacara menghanyutkan abu mayat – red). Belum lagi, saat malam minggu. Pasar malam di samping kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Objek Wisata Pelabuhan Buleleng, akan sesak dipenuhi masyarakat yang haus akan hiburan.
“Perubahan paling terasa, sejak disini ada pemavingan tahun 2004. Pelabuhan jadi lebih terawat, yang sebelumnya cuma jembatan kayu”, jelas Wayan Kariasih (35). Pekerjaannya sebagai pedagang asongan keliling, bukan berarti dirinya tak ikut menikmati transformasi dermaga itu. Terlebih lagi, “Jumlah pengunjung disini banyak, per hari bisa sampai 100-200 orang, bahkan lebih.”
“Dulu pelabuhan ini memang tempat orang Buleleng berkumpul. Entah untuk sangkep (rapat – red) atau kumpul-kumpul biasa. Singa Maha Raja, simbol kota juga berdiri di sini,” tutur Dewa Komang Sukayasa (41), salah satu pengunjung. Perubahan kiblat Kota Singaraja, yang dulunya sebagai ibu kota provinsi, kini dikenal sebagai ‘kota pendidikan’ di Bali. Dan kini, Eks. Pelabuhan Buleleng jadi salah satu ikonnya. Tak lekang oleh waktu. Bukan hanya sekedar ikon ‘tua’ kota, tetapi simbol masyarakatnya. (smy)