
Jezzica Jasmine Wulandari (17) khusyuk mencangkupkan tangannya di depan kepala. Rajutan doa terucap dari bibir kecilnya, memohon Dewa melancarkan perjalanan.
"Perjalanan kami memang diselingi dengan Tirta Yatra (mengunjungi pura - pura) karena Kamis (12/1) ini bertepatan dengan Hari Purnama," ucapnya sambil meninting pejati. Di hari pertama Jelajah Sepeda Pesisir Bali, rute yang mengambil start Eks Pelabuhan Buleleng sampai Desa Tejakula ini memang banyak melewati pura. "Sejauh ini sudah ada 4 pura yang disinggahi yaitu Pura Madue Karang, Gambur Anglayang, Penegil Darma dan terakhir di Ponjok Batu," ketika ditanya mengenai apa yang ia doakan, senyumnya melengkung ke atas. Ia berdoa agar semua peserta diberi kesehatan dan kelancaran dalam bersepeda maupun menjalankan tugasnya.
Bibir kecilnya kemudian memanggil Luh Putu Nanda Hardy Lestari (16) yang sibuk memotret batu berbentuk perahu di atas karang. "Disini (Ponjok Batu -red) terkenal dengan perahu batu ini. Lumayan untuk objek foto ngelatih kemampuan fotografi juga," gadis kelahiran 2000 ini merasakan rasa ingin tahunya berkembang dan mengeksplore pura yang disinggahi. "sejarahnya unik dan entah kenapa membuatku berusaha menghubungkan bukti jati diri orang Bali di laut," namun dengan nada misterius ia mengaku mendapat fakta - fakta kejutan yang mencengangkan.
Tak hanya murid, guru pembimbing yang mengikuti jelajah inipun merasa tertantang untuk berkarya. I Made Adi Sukariawan (31) tertantang untuk membuat tulisan, bahkan buku. "Saya ingin mengeksplorasi pengetahuan saya. Tapi sayang sekali, saya masih ada kerjaan lain," katanya sembari tersenyum pasrah.
Jelajah Sepeda Pesisir Bali di hari pertama melibatkan total 39 orang yang terbagi menjadi 19 orang pesepeda dan 20 tim pendukung. Perjalanan memakan waktu mulai dari 15.00 - 22.00 WITA dengan menempuh perjalanan 28,6 km. Tak hanya bersepeda, konvergensi media untuk topik utama jejak Bahari Orang Bali disorot mulai dari liputan jurnalistik online dan cetak, riset dan produksi film, hunting foto, liputan MPTV, live reporting Radio, liputan features radio, serta pembuatan buku.
"Bisa dikatakan pekerjaan kita lakukan ini bisa sebagai bentuk yadnya," ujar Galuh Sri Wedari (16) selagi menarikan jemarinya di atas keyboard laptop. "Kita berusaha menyadarkan pembaca, pendengar dan penonton kalau jati diri kita adalah lautan. Hasil kerja kita adalah bentuk dari kesadaran bahwa kehidupan Bali sebenarnya berada di laut." (ima)