We have 59 guests and no members online
- GANI ARISTA
- Laporan Khusus
Berburu Emas diantara Halaman: Lika-liku Tim Redaksi
Di era dimana media digital mendominasi, detak jantung literasi di Madyapadma justru berdenyut paling kuat melalui lembaran kertas. Mereka memutuskan untuk menghidupkan kembali tradisi literasi melalui media cetak. Majalah MP Edisi ke-25,sebuah proyek ambisius yang menjadi bagian dari presslist 16, kini tengah menjadi pusat perhatian. Edisi ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan sebuah misi untuk mengupas tuntas isu mikroplastik, ancaman tak terlihat yang kini telah menyusup ke dalam rantai kehidupan makhluk hidup.
Di balik layar, Saidah Rossalia Febryanti, gadis manis berambut lurus yang akrab disapa Rossa selaku Wakil Pemimpin Redaksi, bersama Putu Devan Satya Palguna sebagai layouter majalah, bahu-membahu meramu setiap lembar majalah agar tetap relevan. Bagi Rossa, Edisi ke-25 ini adalah ikhtiar untuk menghidupkan kembali minat baca di lingkungan sekolah. Topik mikroplastik dipilih bukan tanpa alasan; ia ingin pembaca menyadari ancaman yang begitu dekat. "Meski jarang ada sekolah yang menerbitkan majalah saat ini, aku berharap Majalah Edisi 25 banyak dibaca. Semoga lewat topik mikroplastik ini, pembaca bisa mendapatkan wawasan baru," tutur Rossa. Namun, di balik semangat tersebut, proses kreatifnya menyimpan realita yang tak selalu mulus. Bagi Devan, posisi layouter awalnya tampak sebagai zona nyaman. "Awalnya aku pikir jadi layouter itu enak, tinggal duduk manis, tidak perlu panas-panasan," kenang Devan sambil terkekeh. Namun, realita menghantam saat Devan menyadari bahwa desain bukan sekadar menata elemen. Devan sempat melakukan kesalahan fatal pada pengaturan bleed di InDesign untuk layout resensi film, karya yang di sebut sebagai the one that starts it all. Kepanikan itu perlahan berubah menjadi ritme kerja yang intens. Devan menggambarkan masa-masa produktif mereka sebagai gold rush, di mana mereka berburu dengan waktu untuk menyelesaikan desain di tengah keterbatasan ide. Ide-ide mengalir deras untuk berbagai rubrik, mulai dari I2ASPO hingga ITB CIS, menuntut mereka untuk memutar otak demi mencapai harmoni visual.
Tantangan teknis muncul ketika mereka dihadapkan pada rubrik event seperti PTC dan EPT. Mereka dituntut menyajikan dua berita dalam satu halaman, padahal setiap materi adalah berita kisah yang panjangnya bisa mencapai satu halaman penuh. Di sinilah dinamika "tarik-ulur" antara Devan dan Rossa diuji. "Ada saat-saat di mana aku merasa kesal," ungkap Devan jujur. "Ketika desain yang sudah susah payah dibuat harus direvisi lagi, aku sering mencapai titik jenuh. Dan Kak Rossa sebagai Wakil Pemred harus memutar otak memangkas teks supaya pas, sementara aku terus mendorong supaya layout tetap presisi.” Rossa, sebagai Wakil Pemred, harus memutar otak memangkas teks tanpa menghilangkan esensi. Puncaknya terjadi pada sebuah artikel 800 kata yang harus dipangkas menjadi 600 kata agar muat dalam dua halaman tanpa mengorbankan ruang untuk karikatur. Rossa berkali-kali melakukan penyuntingan, sementara Devan terus mendorong agar layout tetap presisi. "Kadang aku agak memaksa memangkas teks, karena aku sudah punya visi visual yang ingin dicapai agar majalahnya estetik dan tidak bolong,” tambah Devan. Meski melelahkan, proses "bedah artikel" ini menjadi bumbu yang mendewasakan cara kerja mereka.
Setelah berminggu-minggu berkutat dengan ketidakpastian, momen "pecah telur" akhirnya tiba. Saat mereka memberanikan diri meminta saran untuk rubrik tips dan puisi kepada Kak An dan langsung mendapatkan lampu hijau, motivasi mereka melonjak drastis. "Begitu satu contoh di-ACC, rasa percaya diri muncul. Otak ku jadi terformat otomatis dan ide-ide untuk layout lainnya mengalir jauh lebih lancar," ujar Devan. Dalam upaya menembus kebuntuan kreatif, mereka sempat memutuskan untuk "hijrah" dari mini-lib menuju Balai Bengong kelas 10 demi mencari udara segar. Namun, realita sering kali berkata lain di tengah intensitas pengerjaan majalah yang menguras energi. "Kami pindah ke Balai Bengong karena takut ketiduran di mini-lib," cerita Devan, sang layouter. "Tapi ujung-ujungnya malah tertidur juga di sana karena lelah mengejar deadline." Momen ironis tersebut menjadi saksi bisu betapa kerasnya mereka berjuang.
Kini, di bawah tangan dingin Rossa dan Devan, Majalah MP Edisi 25 perlahan mencapai bentuk akhirnya. Meski diwarnai dengan rasa mumet, perdebatan teknis, hingga ketiduran di tempat yang salah, mereka menjalaninya dengan rasa senang. Bagi mereka, majalah ini adalah bukti bahwa di balik lembar-lembar kertas, terdapat kerja keras, diskusi panjang, dan semangat untuk berbagi ilmu yang tak kunjung padam. Semuanya berjalan "aman jaya," dan siap menyapa pembaca dengan segala cerita yang tersimpan di dalamnya. (cpm/erl)