We have 61 guests and no members online
- GANI ARISTA
- Laporan Khusus
Meretas Ragu di Magang Buku, Perjalanan Kreatif menuju PRESSLIST 16
Menjelang Presslist 16, geliat literasi di Madyapadma Journalistic Park mencapai puncaknya. Program magang buku angkatan 49 yang kini berbentuk inkubator penulis, sebuah tradisi tahunan desk buku Madyapadma yang telah bertransformasi menjadi ruang tempah bagi para talenta muda untuk melahirkan karya terbaik mereka. Di balik layar, Komang Tri Sinta Dhyana Kuntari, selaku Pemimpin Desk Penerbitan Buku, Inkubator Penulis, dan Madyapadma Pustaka periode 2025 - 2026, menjadi sosok sentral yang mendampingi para penulis muda. Bagi Sinta, program ini bukanlah sekadar tugas administratif, melainkan ajang pembuktian diri. "Magang buku ini sebenarnya bukan cuma tugas. Ini adalah ajang untuk membuktikan kalau mereka itu dapat membuat karya," ungkap Sinta tegas. Sinta menyadari tantangan terbesar bukanlah kemampuan teknis, melainkan "belenggu" ketakutan untuk memulai.
Sinta memilih pendekatan personal sebagai penuntun, alih-alih menjadi guru yang otoriter. Sinta sering mendengar keluh kesah peserta yang merasa buntu, yang sebenarnya berakar dari ketakutan akan banyaknya ide di kepala. Untuk itu, Sinta membimbing angkatan 49 menyusun kerangka tulisan dari hal-hal terkecil, sekaligus beradaptasi mempelajari bidang baru seperti komik dan seni lukis demi membimbing anggota dengan maksimal. "Jadinya gimana sih aku sebagai pemimpin deks buku agar dapat membantu membimbing mereka disaat mereka kebingungan. Ya mau gak mau aku belajar untuk memperdalami bidang-bidang yang baru dimunculkan ini," ujar Sinta. Pendekatan ini terbukti berhasil merangkul keberagaman karya yang lahir di angkatan 49.
Keberagaman inilah yang dirasakan oleh Ni Kadek Dinara Vionitha. Meski awalnya ingin menulis cerpen, Dinara memberanikan diri mencoba tantangan baru melalui komik. Bagi Dinara, komik adalah media yang menawarkan kendali penuh atas emosi dan alur cerita, meski harus nekat dengan tantangan teknis yang berat. "Selama ini Dinara sering membaca komik... karena itu, Dinara pengen mencoba membuat komik agar dapat mengetahui terkait apa saja yang harus dibuat, cara mengatur panelnya, dialognya, alur ceritanya biar bagus, dan juga desain-desain karakternya," jelas Dinara antusias. Dinara mengaku bahwa tantangan tersulit yang dihadapi adalah mengatur anatomi karakter yang berpindah-pindah posisi dan menyelaraskan perspektif latar belakang bangunan agar tetap terlihat rapi dan enak dilihat.
Sementara itu, Ni Putu Priyanka Gauri Maha Putri menemukan kembali gairah literasinya melalui program inkubasi ini, yang menjadi pengalaman perdananya menciptakan sebuah buku yang utuh. Gauri merasa wawasannya terbuka lebar saat menyadari bahwa buku tidak harus selalu berisi sastra konvensional, tetapi dapat berupa kumpulan karya visual seperti fotografi, lukisan, hingga doodle art. Di tengah kesibukan yang padat, Gauri berjuang menaklukkan writer’s block (kondisi ketika penulis mengalami kebuntuan sehingga kesulitan menghasilkan kata-kata atau melanjutkan karyanya) yang sering membuatnya kehilangan ide secara tiba-tiba. Kini, Gauri fokus menuangkan gagasannya ke dalam kumpulan cerpen bertema budaya Bali. "Semoga dengan karya yang Gauri bikin ini bisa jadi motivasi buat diri Gauri sendiri lagi dan Gauri harap cerpennya Gauri ini bisa menginspirasi banyak orang yang mau nyari ide," ujar Gauri penuh harap.
Proses inkubasi yang telah berjalan sejak 9 Juni ini akan terus berlangsung hingga pameran Presslist 16 di pertengahan Agustus nanti. Melalui perpaduan antara pendekatan humanis yang diterapkan Sinta dan semangat pantang menyerah dari Dinara serta Gauri, program ini berhasil mengubah rasa tidak percaya diri menjadi karya yang siap disebarluaskan. Bagi mereka, Presslist 16 bukan sekadar pameran buku biasa, melainkan momen pembuktian bahwa penulis muda memiliki kapasitas untuk memberikan kontribusi nyata bagi dunia literasi. Dengan disiplin dan keberanian untuk mengeksplorasi batas-batas baru, angkatan 49 kini siap memberikan kejutan di panggung literasi yang sesungguhnya.(cpm/erl)