We have 13 guests and no members online
- GANI ARISTA
- Laporan Khusus
Dari Panik di Ujung Tanduk hingga Riuh Tepuk Tangan, Totalitas Madyapadma di Orasi Ekstra
"Tetap solid, rendah hati, dan jangan jumawa," kunci utama Made Agus Dwipayana dalam suksesnya orasi musikal Madyapadma yang penuh perjuangan kilat.
Terik matahari Trisma menyengat pada Jumat, 31 Juli 2026. Namun, di tengah panas yang membakar, ribuan pasang mata justru terpaku ke arah penampilan orasi ekstra. Lapangan sekolah mendadak berubah menjadi lautan energi ketika deretan pengurus Madyapadma menyuguhkan orasi yang jauh melampaui batas konvensional, sebuah pertunjukan teatrikal musikal yang menghentak dan penuh warna. Tahun ini, Madyapadma tampil beda. Mengusung tema besar "Menjadi Madyapadma, Menjadi Indonesia", mereka ingin merangkum bagaimana seorang murid bisa membawa perubahan nyata bagi Indonesia melalui rumah jurnalistik tercinta. Nilai-nilai keindonesiaan dengan berpikir merdeka, mandiri, dan berbudi yang dijelmakan menjadi roh di setiap lini desk Madyapadma.
Lebih dari sekadar orasi, mereka mengadopsi konsep Video DPR - Musikal karya SkinnyIndonesian24 dan Jovial da Lopez, lengkap dengan balutan drama musikal, paduan suara, kabaret penari latar, hingga atraksi futuristik berupa drone yang terbang membawa bendera Madyapadma diiringi lagu "MP Cintaku". Namun, di balik megahnya pertunjukan yang memukau angkatan 50 tersebut, tersimpan sebuah kisah perjuangan yang menyentuh, tentang ide-ide nekat di detik-detik akhir, kepanikan yang melanda, hingga air mata peluh yang terbayar lunas.
Mewujudkan sebuah pertunjukan kolosal yang melibatkan dua angkatan sekaligus, angkatan 48 dan 49, tentu bukan perkara mudah. Made Agus Dwipayana, Direktur Pemrograman Madyapadma TV yang turun tangan langsung sebagai aktor sekaligus koreografer, mengakui bahwa persiapan awal sempat berjalan sangat alot dan nyaris kehilangan arah. "Waktu hari Selasa, persiapannya benar-benar alot banget enggak ada arahnya. Akhirnya aku coba sampaikan ide yang terinspirasi dari saran Kak An untuk memasukkan elemen dance," kenang Agus saat menceritakan titik balik persiapan mereka. Ide tersebut sempat menemui jalan terjal. Sebagian teman-teman sempat menolak karena waktu yang terlampau mepet dan kekhawatiran tidak terkejar. Namun, situasi yang mendesak membuat mereka harus mengambil keputusan cepat. Agus bersama Kirana langsung tancap gas sepulang sekolah untuk merancang alur cerita. Hari Rabu dilanjutkan dengan revisi bersama Kak Ananta dan kawan-kawan, Kamis langsung dilahap dengan latihan penuh, membuat koreografi, menyusun pola lantai, hingga gladi bersih, sebelum akhirnya harus tampil memukau pada hari Jumat. Di tengah badai persiapan yang melelahkan itu, Agus memegang sebuah prinsip agar tetap berpijak di bumi. "Tetap solid, rendah hati, dan selalu ingat apa yang sudah dilakukan, jangan terlalu jumawa sama diri sendiri," pesan Agus.
Cerita tak kalah mendebarkan datang dari Ni Luh Vita Pradnyan Dewi. Berperan sebagai salah satu karakter utama dalam drama musikal untuk memperkenalkan Madyapadma, Vita justru mengawali perjalanannya dengan kepala penuh tanda tanya. Di tengah kesibukannya mengurus persiapan Presslist 16 dan setumpuk tugas akademik sekolah, Vita sempat melewatkan rapat krusial pengurus inti angkatan 48. Akibatnya, Vita berada di posisi yang benar-benar buta terhadap konsep acara, "Beberapa hari sebelum orasi, pengurus inti angkatan 48 sempat ngebahas persiapan, tapi aku enggak ikut. Jadi aku benar-benar kosong banget," ungkap Vita jujur. Betapa terkejutnya Vita ketika membuka naskah orasi dan mendapati dirinya harus berbicara, menari, dan bernyanyi saat orasi. Puncak ketegangan terjadi pada malam H-2, ketika mereka harus merapatkan konsep fix di RPP hingga pukul 21.00 malam, dan baru mendapat ACC di larut malam menjelang pagi oleh Kak Ananta.
Hari H-1 menjadi medan pertempuran sesungguhnya. Sepulang sekolah, Vita berusaha keras mempelajari gerakan dance baru bersama rekan-rekan angkatan 48 dan 49. Di bawah arahan koreografer dan kerja sama tim yang solid, suasana latihan berubah menjadi ruang yang penuh energi positif. Tidak ada kepanikan yang saling menyalahkan, yang ada justru gelak tawa kecil di sela peluh dan gerak cepat tangan serta kaki yang saling menyesuaikan. Teman-teman Madyapadma bergerak selaras, saling menularkan semangat ketika ada yang mulai kebingungan menghafal pola lantai. Hal inilah yang meninggalkan kesan mendalam bagi Vita. Menyaksikan bagaimana dua angkatan yang berbeda bisa melebur begitu cepat, saling menopang, dan menguasai materi tersulit dalam waktu sesingkat itu, membuatnya merasa takjub. Vita menemukan keajaiban kecil dari sebuah kebersamaan. "Aku respect banget sama teman-teman, mereka cepat banget hafalnya dan kita bisa nampilin yang terbaik," puji Vita penuh haru.
Segala kepenatan, jam tidur yang terampas, hingga debat panjang di ruang rapat seketika menguap saat Madyapadma akhirnya mendapat giliran untuk menampilkan orasi terbaiknya. Berdiri di bawah terik matahari Trisma yang menyengat sama sekali tidak menyurutkan api semangat mereka, terutama ketika melihat mata berbinar dari para adik kelas angkatan 50 yang menonton dengan antusias. Bagi Agus dan Vita, orasi kali ini bukan sekadar ajang unjuk gigi. Ini adalah bukti bahwa keterbatasan waktu dan tekanan mental bisa dijinakkan lewat solidaritas. Sebuah kisah tentang keberanian melangkah, ketulusan berkarya, dan harapan besar agar estafet kepemimpinan Madyapadma terus menyala di tangan generasi-generasi selanjutnya. (cpm/erl)